Halaman

Kamis, 14 Juni 2012

Abstrak :

Abstrak :


Negara Indonesia merupakan negara berdaulat dan demokrasi yang terdiri dari banyak penduduk dengan berbagai macam karakter, budaya serta aspek dalam kehidupannya. Aspek tersebut dapat dikaji dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Aspek yang akan dikaji dalam jurnal ilmiah ini adalah aspek ekonomi, di mana aspek ini merupakan aspek yang memegang peranan penting dalam perkembangan negara Indonesia. Aspek ekonomi negara Indonesia berkaitan dan berhubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi negara Indonesia, di mana pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh pendapatan nyata berupa produk domestik bruto ( Gross Domestic Product ). Pertumbuhan ekonomi negara Indonesia berkaitan pula dengan jumlah penduduk yang ada di negara Indonesia, di mana pertumbuhan ekonomi dibutuhkan dan merupakan sumber utama peningkatan standar hidup penduduk yang jumlahnya terus meningkat. Kemampuan negara Indonesia untuk meningkatkan standar hidup penduduknya adalah sangat tergantung dan ditentukan oleh laju pertumbuhan ekonomi jangka panjangnya. Untuk mengetahui cara perhitungan pertumbuhan ekonomi tersebut, maka peran angka indeks sangat diperlukan. Melalui perhitungan angka indeks, maka kita dapat mengetahui perubahan-perubahan pertumbuhan ekonomi negara Indonesia per tahunnya, selain itu kita dapat mengetahui bagaimana perkembangan pertumbuhan ekonomi negara Indonesia, baik pertumbuhan ekonomi yang menurun ataupun pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Dengan menggunakan perhitungan angka indeks, kita dapat lebih mudah dan cepat untuk menghitung seberapa besar pertumbuhan ekonomi di negara Indonesia. Berikut adalah hasil pertumbuhan ekonomi negara Indonesia berdasarkan perhitungan angka indeks dari tahun 2002-2011, yaitu sebesar 16,30%; 8,02%; 27,03%; 11,11%; 22,52%; 19,91%; 18,31%; 25,26%; 13,24%; 6,09%

ANALYSIS OF THE ROLE OF ECONOMIC GROWTH INDEX NUMBERS OF THE INDONESIA YEAR 2002 - 2011
Abstract : Indonesia is a sovereign nation state and democracy that consistsof many people with a variety of characters, culture and aspects of his life. These aspects can be studied in the political, economic, social, cultural, defense and security. Aspects to be studied in a scientific journal is the economic aspect, in which this aspect is an aspect that plays an important role in the development of Indonesia.Economic aspects of the Indonesia-related and closely linked toeconomic growth in Indonesia, where economic growth is influenced by real income in the form of GDP (Gross Domestic Product). Economic growth in Indonesia also related to the total population in the country of Indonesia, where economic growth is needed and is the main source of rising living standards of population numbers continue to rise. The ability of Indonesia toimprove the living standards of its population is very dependent anddetermined by the rate of long-term economic growth. To find outhow the calculation of economic growth, the role of index numbers is needed. Through the calculation of index numbers, then we can know changes the state of Indonesia's economic growth per year,other than that we can find out how the development of the country's economic growth in Indonesia, both the decline of economic growthor increased economic growth. By using the calculation of index numbers, we can more easily and faster to calculate how mucheconomic growth in Indonesia. Here are the results of Indonesia's economic growth based on the calculation of index numbers of the years 2002-2011, amounting to 16.30%, 8.02%, 27.03%, 11.11%, 22.52%, 19.91%; 18 , 31%, 25.26%, 13.24%, 6.09%

PENDAHULUAN
Latar belakang
Persoalan pertumbuhan ekonomi ( economic growth ) telah mendapatkan perhatian yang besar sejak beberapa tahun yang silam di negara Indonesia. Pertumbuhan ekonomi dibutuhkan dan merupakan sumber utama peningkatan standar hidup ( standard of living ) penduduk yang jumlah terus meningkat. Dengan kata lain, kemampuan negara Indonesia untuk meningkatkan standar hidup penduduknya adalah sangat tergantung dan ditentukan oleh laju pertumbuhan ekonomi jangka panjangnya ( long run rate of economic growth ). Pada akhir abad 18 telah berkembang suatu pandangan yang mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk ( population growth ) akan sangat dibatasi oleh kemampuan alam untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan dasar ( basic needs ) dari penduduk yang jumlahnya terus meningkat itu. Jika penduduk bertambah lebih cepat daripada kemampuan ekonomi ( economic capacities ), maka pertumbuhan penduduk harus dikendalikan atau dikontrol, sebab jika tidak akan menyebabkan penderitaan umat manusia yang semakin berat. Pendapat tersebut dikemukakan salah seorang ahli ekonomi Klasik, yaitu Thomas Robert Malthus lewat karyanya yang berjudul An eassy on the Principles of Population.
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu aspek ekonomi inti, di mana pertumbuhan ekonomi memegang peranan dalam menentukan perkembangan suatu negara. Pertumbuhan ekonomi tidak lepas dengan masalah-masalah dan persoalan yang terjadi di negara Indonesia,seperti halnya masalah pengangguran. Salah satu prioritas dalam membangun perekonomian yang dikemukakan pemerintah Indonesia adalah penciptaan lapangan pekerjaan untuk mengurangi tingkat pengangguran, Data Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang positif tidak selalu diikuti dengan penurunan pada tingkat pengangguran dari periode sebelumnya, begitu pula sebaliknya. Tingkat pengangguran di Indonesia memiliki trend yang cenderung terus meningkat. Masalah pengangguran merupakan salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan ekonomi di negara Indonesia, di mana pertumbuhan ekonomi yang terhambat akan membuat negara Indonesia untuk berkembang menjadi negara maju.
Perhitungan mengenai pertumbuhan ekonomi ini dapat diukur melalui perhitungan angka indeks. Dengan menggunakan peerhitungan angka indeks, maka kita dapat mengetahui seberapa besar tingkat pertumbuhan ekonomi negara Indonesia setiap tahunnya. Angka indeks dapat memberikan manfaat agar kita dapat melakukan pengukuran secara kuantitatif mengenai bagaimana terjadinya perubahan-perubahan variabel dalam dua atau lebih waktu yang berlainan. Hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi adalah bahwa melalui cara perhitungan angka indeks, kita tidak akan sulit untuk mengetahui sejauh mana pertumbuhan ekonomi kita berkembang dan kita pun tidak akan sulit untuk menganalisis apakah pertumbuhan negara Indonesia naik atau turun untuk setiap tahunnya. Melalui angka indeks, kita pun dapat membandingkan pertumbuhan ekonomi negara Indonesia dengan negara lainnya. Manfaat kita mengetahui pertumbuhan ekonomi negara lain adalah untuk menjadi motivasi dan pedoman bagai negara kita agar dapat terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi sehingga negara Indonesia dapat berkembang menjadi negara maju.
Maka dari itu, melalui pembuatan jurnal ilmiah ini kita akan dapat mengetahui apa saja peran angka indeks tehadap pertumbuhan ekonomi negara Indonesia, apakah pertumbuhan ekonomi negara Indonesia mengalami kenaikan ataupun penurunan dari tahun 2002 hingga tahun 2011.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis seberapa besar peran angka indeks terhadap pertumbuhan ekonomi negara Indonesia tahun 2002 – 2009.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar tingkat pertumbuhan ekonomi negara Indonesia dari tahun 2002 – 2009 melalui perhitungan angka indeks.



Tinjauan Pustaka




Angka indeks merupakan peralatan statistik yang sangat populer guna mengukur perubahan atau melakukan perbandingan antara variabel-variabel ekonomi dan sosial. Perubahan atau perbandingan antar variabel dara waktu ke waktu dan yang dinyatakan dengan angka indeks umumnya lebih mudah dimengerti ( Dajan, 1985 ). Angka indeks atau indeks adalah angka yang dipakai sebagai alat perbandingan dua atau lebih kegiatan yang sama untuk kurun waktu yang berbeda dan dinyatakan dalam satuan persen ( Hasan, 2003 ). Tujuan pembuatan angka indeks adalah mengukur secara kuantitatif terjadinya perubahan dalam dua waktu yang berlainan, seperti indeks harga untuk mengukur perubahan harga, indeks biaya hidup untuk mengukut tingkat inflasi, dan sebagainya ( Supranto, 2008 ). Dalam membuat angka indeks diperlukan dua macam waktu, yaitu ( Supranto, 2008 ) :
1. Waktu dasar ( Based Period )
Waktu dasar adalah waktu di mana suatu kegiatan ( kejadian ) digunakan sebagai dasr perbandingan.
2. Waktu yang bersangkutan atau sedang berjalan ( Current Period )
Waktu yang bersangkutan adalah waktu di mana suatu kegiatan ( kejadian ) digunakan sebagai dasar perbandingan terhadap kegiatan ( kejadian ) pada waktu dasar.
Jenis – jenis angka indeks yang akan dipakai dalam menghitung pertumbuhan ekonomi negara Indonesia tahun 2002-2009 dapat dikelompokkan berdasarkan penggunaannya ( Hasan, 2003 )
1. Jenis – jenis angka indeks berdasarkan penggunaannya :
a. Indeks Harga ( Price Index )
Indeks harga adalah angka indeks yang digunakan untuk mengukur atau menunjukkan perubahan harga barang, baik satu barang atau sekumpulan barang. Indeks harga menyangkut persentase kenaikan atau penurunan harga barang tersebut
Contoh : indeks harga konsumen, indeks harga perdagangan pasar.
b. Indeks kuantitas ( Quantity Index )
indeks kuantitas adalah angka indeks yang digunakan untuk mengukur kuantitas suatu barang atau sekumpulan barang, baik yang diproduksi, dikonsumsi, maupun dijual.
Contoh : indeks produksi beras, indeks penjualan jagung.
c. Indeks nilai ( Value Index )
Indeks nilai adalah angka indeks yang digunakan untuk melihat perubahan nilai dari suatu barang atau sekumpulan barang, baik yang dihasilkan, diimpor, maupun diekspor.
Contoh : indeks nilai ekspor kopra, indeks nilai impor beras.

Secara umum, pertumbuhan ekonomi didefinisikan sebagai peningkatan dalam kemampuan dari suatu perekonomian dalam memproduksi barang-barang dan jasa-jasa. Dengan perkataan lain, pertumbuhan ekonomi lebih menunjuk pada perubahan yang bersifat kuantitatif ( quantitative change ) dan biasanya diukur dengan menggunakan[1]data produk domestik bruto ( GDP ), atau pendapatan atau output per kapita. Produk domestik bruto ( GDP ) adalah total nilai pasar ( total market value ) dari barang-barang akhir dan jasa-jasa ( final goods and services ) yang dihasilkan di dalam suatu perekonomian selama kurun waktu tertentu ( biasanya 1 bulan ). Konsep lain yang terkait dengan GDP adalah produk nasional bruto ( GNP ) yaitu total nilai pasar dari barang-barang akhir dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh penduduk ( residents ) suatu negara selama kurun waktu tertentu. Jadi, perbedaan antara GDP dan GNP adalah bahwa GDP mengukur pendapatan dari faktor-faktor produksi dalam batas teritori negara ( nation’s territory boundaries ), tanpa mempersoalkan siapa yang menerima pendapatan tersebut; sedangkan GNP mengukur pendapatan dari penduduk negara Indonesia atau perekonomian, tanpa mempersoalkan apakan pendapatan itu diciptakan/dihasilkan oleh produksi di dalam negeri ataukah produksi di luar negeri ( Sach and Larrain, 1993 : 25 ).
Pertumbuhan ekonomi memiliki unsur-unsur dan berkaitan erat dengan output barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu perekonomian. Output barang dan jasa begantung pada kuantitas input yang tersedia, seperti kapital dan tenaga kerja, dan produktivitas dari input tersebut. Hubungan diantara output dan input dijelaskan dengan menggunakan fungsi produksi Y = AF ( K,N ), di mana Y adalah total output, K adalah jumlah kapital, N adlah jumlah tenaga kerja, dan A adalah produktivitas. Jika output dan produktivitas adalah konstan, maka fungsi produksi menyatakan bahwa output juga akan konstan – artinya tidak terjadi pertumbuhan ekonomi. Supaya jumlah output bertumbuh, maka kuantitas input yang digunakan harus bertambah atau produktivitas harus meningkat, atau kedua-duanya.
Akuntansi pertumbuhan ( growth accounting ) secara empiris mengukur peran relatif dari ketiga sumber pertumbuhan ekonomi tersebut. Analisis akuntansi pertumbuhan tipikal mencakup empat tahap, sebagai berikut : tahap 1 ( dapatkan ukuran dari laju pertumbuhan output, kapital, dan tenaga kerja, untuk perekonomian selama kurun waktu tertentu, tahap 2 ( estimasi nilai-nilai untuk elastisitas ak dan an dari data historis ),tahap 3 ( hitung kontribusi kapital terhadap pertumbuhan ekonomi dan kontribusi tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi, tahap 4 ( sebagian dari pertumbuhan ekonomi disumbangkan, baik oleh pertumbuhan kapital maupun pertumbuhan tenaga kerja yaitu ditunjukkan oleh peningkatan di dalan produktivitas faktor tota.
Sebagian besar ahli ekonomi Solow residual diinterpretasikan sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi yang disebabkan oleh kemajuan teknologi. Sedangkan Edwart Prescott ( 1986 ), menginterpretasikannya sebagai suatu ukuran dari tingkat kemajuan teknologi. Dalam kenyataannya, Solow residual itu sesungguhnya merupakan ukuran dari sesuatu yang tidak diketahui, sebab ia dihitung sebagai bagian dari pertumbuhan yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor-faktor yang dapat diamati.
[3]Dalam pertumbuhan ekonomi di negara Indonesia, terdapat 2 teori dasar yang berlaku yaitu :

1. Teori dan Model Pertumbuhan Ekonomi Harrod-Domar
Teori ini dikembangkan oleh Sir Roy F. Harrod dan Evsey Domar. Teori ini merupakan perkembangan dari teori Keynes. Dengan dasar pemikiran bahwa analisis yang dilakukan oleh Keynes dianggap kurang engkap karena tidak membicarakan masalah-masalah ekonomi jangka panjang, Harrod-Domar mencoba untuk menganalisis syarat-syarat yang diperlukan agar perekonomian dapat tumbuh dan berkembang dalam jangka panjang dengan mantap (steady growth).
Ada beberapa asumsi yang digunakan. Asumsi-asumsi tersebut antara lain:
a. Perekonomian dalam keadaan seluruh barang modal dan tenaga kerja telah seluruhnya digunakan (full employment).
b. Perekonomian hanya terdiri dari dua sector yaitu household dan firm. Tidak ada government dan trade with rest of the world.
c. Besarnya Private Saving proporsional dengan National Income.
d. Marginal Propensity to save (MPS), Capital-output ratio (COR) dan incremental capital-output ratio (ICOR) dianggap konstan/tetap.
Berdasarkan pada asumsi diatas kita memperoleh bahwa tabungan harus sama dengan total investasi (S=I), dimana;
· Tabungan merupakan suatu proporsi dari output total (S = sY).
· Investasi didefenisikan sebagai perubahan stok modal dan dilambangkan dengan I=∆K.
Karena stok modal (K) memiliki hubungan langsung dengan output total (Y) yang ditunjukkan melalui COR (k), maka k= ∆K/∆Y atau K=k.Y.
Kita bisa menuliskan identitas dari tabungan yang sama dengan investasi sebagai berikut:
S = s.Y = k.
∆Y = ∆K = I
s.Y = k.∆Y
K/Y pada persamaan di atas menunjukkan tingkat perubahan output (persentasi dari perubahan output). Tingkat pertumbuhan output ditentukan secara bersama oleh rasio tabungan (s) dan rasio modal-output (COR=k).
Persamaan Harrod-Domar yang sangat sederhana ini menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan output secara positif berhubungan dengan rasio tabungan. Makin tinggi tabungan diinvestasikan, makin tinggi pula output. Hubungan antara COR dengan tingkat pertumbuhan output adalah negatif, yaitu makin tinggi nilai COR maka makin rendah tingkat pertumbuhan output. Oleh karena itu, jika ingin tumbuh, perekonomian harus menabung dan menginvestasikan suatu proporsi tertentu dari output totalnya. Adapun derivasi tingkat pertumbuhan ekonominya adalah persamaan akhir dari derivasi tersebut menunjukkan bahwa teori pertumbuhan ekonomi menurut Harrod-Domar bahwa ketika terjadi kenaikan saving rate/marginal product of capital dan penurunan depresiasi dari modal/kapital maka akan terjadi penambahan output, vice versa. Inilah yang disebut dengan model pertumbuhan Harrod-Domar.
Ada beberapa kelemahan yang ditemukan dari teori Harrod-Domar ini, antara lain:
1) Teori ini mengasumsikan bahwa MPS dan ICOR konstan. Padahal kenyataannya kedua hal tersebut mungkin saja berubah dalam jangka panjang.
2) Asumsi bahwa tenaga kerja dan modal dipergunakan dalam proporsi yang tetap tidak dapat dipertahankan. Pada umumnya tenaga kerja dapat menggantikan modal dan perekonomian dapat bergerak lebih mulus. Dalam kenyataannya pergerakan ini tidak stabil.
3) Sulit sekali dan bahkan hampir tidak mungkin memppertahankan asumsi harga tetap konstan karenakenyataanya perubahan harga sangat mungkin terjadi.
4) Suku bunga tidak bisa dianggap konstan. Suku bunga dapat saja berubah dan pada akhirnya mempengaruhi investasi.


2. Teori dan Model Pertumbuhan Ekonomi Solow
Model Solow sebagai salah satu model pertumbuhan ekonomi memberikan analisis statis bagaimana keterkaitan antara akumulasi modal, pertumbuhan populasi penduduk, dan perkembangan teknologi serta pengaruh ketiganya terhadap tingkat produksi output. Model ini memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa perekonomian di suatu negara bisa tumbuh lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi di negara lain.
Sebelum menganalisis lebih dalam, kita perlu mengetahui asumsi-asumsi yang digunakan dalam model Solow. Selanjutnya, asumsi-asumsi tersebut akan kita lepas satu per satu untuk melihat bagaimana dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara.
I. Akumulasi Modal
Asumsi pertama model Solow adalah dengan menganggap tidak ada perubahan pada angkatan kerja dan teknologi ketika terjadi proses akumulasi modal dalam perekonomian di suatu negara. Proses akumulasi modal ini nantinya hanya ditentukan oleh penawaran dan permintaan terhadap barang.
Penawaran terhadap Barang dan Fungsi Produksi
Dalam model Solow, output bergantung pada persediaan modal dan jumlah tenaga kerja. Hal ini dituliskan dalam bentuk persamaan sebagai berikut :
Y = F (K, L)
zY = F (zK, zL)
Untuk memudahkan analisis, kita nyatakan seluruh variabel dalam perekonomian per tenaga kerja atau dengan mengganti nilai z dengan 1/L. Dengan demikian, diperoleh:
Y/L = (K/L, 1)
Y = f(k)
Persamaan di atas menunjukkan jumlah output per tenaga kerja adalah fungsi dari jumlah modal per tenaga kerja.
Untuk setiap modal ‘k’, fungsi di atas menunjukkan berapa banyak output yang diproduksi dalam perekonomian. Dari fungsi produksi di atas, jika kita derivasikan satu kali, akan diperoleh marginal product of capital (MPK) yang didefinisikan sebagai seberapa banyak output tambahan yang dihasilkan oleh seorang pekerja ketika mendapatkan satu unit modal tambahan. Secara matematis :
MPK = f(k+1) – f(k)
Dari persamaan ini ketika nilai ‘k’ rendah, rata-rata pekerja hanya memiliki sedikit modal untuk bekerja, sehingga satu unit modal tambahan akan begitu berguna dan dapat memproduksi output tambahan lebih banyak. Ketika nilai ‘k’ tinggi, rata-rata pekerja memiliki banyak modal, sehingga satu unit tambahan modal hanya akan sedikit menghasilkan output tambahan.
Permintaan terhadap Barang dan Fungsi Konsumsi
Peranan permintaan terhadap barang dalam model Solow berasal dari konsumsi dan investasi. Dengan kata lain, output per pekerja merupakan jumlah dari konsumsi per pekerja dan investasi per pekerja.
y = c + i
Dalam model Solow, diasumsikan setiap tahun seseorang akan menabung sebagian dari pendapatan mereka sebesar ‘s’ dengan nilai given dan mengkonsumsi sebesar (1-s) dari pendapatan mereka. Dengan demikian, kita bisa menyatakan gagasan ini dalam bentuk fungsi konsumsi sederhana, yaitu :
c = (1-s) y
Y = (1-s) y + i
Untuk melihat pengaruh fungsi konsumsi ini terhadap investasi, kita substitusikan persamaan di atas ke dalam identitas perhitungan pendapatan nasional, sehingga diperoleh lah bahwa tingkat investasi sama dengan tabungan. Jadi secara tidak langsung, tingkat tabungan ‘s’ menunjukan seberapa besar bagian output yang dialokasikan untuk investasi.
y = (1-s) y + i
i = sy

Investasi dan Depresiasi
Seiring dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi, persediaan modal akan mengalami perubahan. Perubahan ini dapat bersumber dari dua hal : investasi dan depresiasi. Investasi berupa perluasan usaha dan penambahan modal, sedangkan depresiasi mengacu pada penggunaan modal sehingga persediaan modal berkurang.
i = s.f(k)
Persamaan di atas mengaitkan persediaan modal ‘k’ yang dimiliki dengan akumulasi modal ‘i’ baru. Untuk memasukkan depresiasi ke dalam model, kita asumsikan bahwa sebagian dari persediaan modal menyusut setiap tahun sebesar δ (tingkat depresiasi). Dengan demikian, kita bisa menyatakan dampak investasi dan depresiasi terhadap persediaan modal ke dalam bentuk persamaan :
∆k = s.f(k) – δk
∆k = i – δk
Dimana ∆k menunjukkan perubahan persediaan modal antara satu tahun tertentu ke tahun berikutnya.Dari persamaan di atas, kita mengetahui bahwa semakin tinggi persediaan modal, maka semakin besar jumlah output dan investasi. Namun, semakin tinggi persediaan modal, maka semakin besar pula jumlah depresiasinya. Ketika perekonomian berada di dalam kondisi tertentu, yakni pada saat jumlah investasi sama dengan jumlah depresiasi, persediaan modal dalam perekonomian dinyatakan dalam k* (saat ∆k = 0).
Kondisi ini disebut steady state level of capital, dimana persediaan modal ‘k’ dan output ‘f(k)’ berada dalam kondisi mapan sepanjang waktu (tidak akan bertumbuh ataupun menyusut). Kita juga dapat mengetahui berapa tingkat modal per pekerja pada kondisi steady statedengan menggunakan persamaan di atas. Kondisi steady state ini, dengan kata lain, menunjukkan ekuilibrium perekonomian di jangka panjang.
Pengaruh Tabungan Terhadap Pertumbuhan
Model Solow menunjukkan bahwa tingkat tabungan adalah determinan penting dari persediaan modal pada kondisi steady-state. Dengan kata lain, jika tingkat tabungan tinggi, maka perekonomian akan mempunyai persediaan modal yang besar dan tingkat ouput yang tinggi, serta sebaliknya. Dasar dari model Solow inilah yang kemudian banyak dikaitkan dengan kebijakan fiskal. Defisit anggaran yang terjadi terus-menerus dapat mengurangi tabungan nasional dan menyusutkan kemampuan berinvestasi. Konsekuensi dalam jangka panjang, yakni rendahnya persediaan modal dan pendapatan nasional.
Dalam kaitannya dengan tingkat pertumbuhan, menurut Solow, tingkat tabungan yang lebih tinggi hanya akan meningkatkan pertumbuhan untuk sementara sampai perekonomian mencapai kondisi steady-state baru yang lebih tinggi dari sebelumnya. Jika perekonomian mempertahankan tingkat tabungan yang tinggi, maka hal itu hanya akan mempertahankan persediaan modal yang besar dan tingkat output yang tinggi tanpa mempertahankan tingkat pertumbuhan yang tinggi.
Tingkat Modal Golden-Rule
Ketika pembuat kebijakan menentukan kondisi steady-state yang ingin dicapai dalam perekonomian, maka hal itu haruslah ditujukan untuk memaksimalkan kesejahteraan individu yang membentuk masyarakat. Individu tidak akan mempermasalahkan jumlah modal dalam perekonomian atau jumlah output yang dihasilkan. Individu hanya akan peduli pada jumlah barang dan jasa yang dapat mereka konsumsi. Dengan kata lain, pembuat kebijakan harus memilih kondisi steady-state dengan tingkat konsumsi tertinggi. Nilai kondisi steady-state yang memaksimalkan tingkat konsumsi ini disebut tingkat modal kaidah emas atau golden rule level of capital dan dinyatakan dengan ‘k*emas’.



METODOLOGI




Teknik pengumpulan data dan analisis data
Dalam penelitian ini pemilihan responden dilakukan berdasarkan metode purposive sampling yaitu, peneliti yang didasari atas kemampuan dan pengetahuan serta pertimbangan tertentu dapat menentukan pilihannya dalam memilih responden yang diyakini mampu memberikan jawaban pada kuisioner sesuai dengan topik penelitian (Sugiyono, 2007).
Dalam proses pengumpulan data terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian yaitu, kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrument penelitian berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrumen, sedangkan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Interview yaitu teknik mengumpulkan data dengan melakukan tanya jawab secara langsung dengan responden untuk mendapatkan berbagai data yang relevan dengan penelitian
2) Studi kepustakaan yaitu menelaah dan meneliti buku – buku atau literatur – literatur yang relevan dengan masalah yang diteliti.
Pengumpulan Data
1. Data Primer
Data primer dikumpulkan dengan menggunakan instrumen survey berupa pertanyaan-pertanyaan untuk melakukan interview.
2. Data Sekunder
Data sekunder dikumpulkan dengan cara mendatangi sumber-sumber data langsung kepada pihak-pihak yang mengetahui perkembangan dan pertumbuhan ekonomi serta kepada para masyarakat mengenai pendapatan upah nyata
Pengolahan Data
Pengolahan data primer yang telah dikumpulkan langsung dari hasil penelitian di lapangan dengan melakukan rekapitulasi data supaya lebih mudah untuk disajikan.
Analisis Data
Analisis data dilakukan secara deskriptif, yaitu membandingkan hasil penelitian dengan kondisi ideal yang diharapkan.
Penyajian Data
Dari hasil penelitian dan data yang telah diolah akan disajikan dalam bentuk tabel disertai dengan narasi yang relevan.

PEMBAHASAN
Berikut ini merupakan tabel pertumbuhan ekonomi negara Indonesia tahun 2002 sampai tahun 2011 :
*asumsi PDB (US$) tahun 2001 adalah $1282,0
Tahun
PDB(US$)
Perhitungan pertumbuhan ekonomi
2002
1491,0
16,30%
2003
1610,6
8,02%
2004
2045,9
27,03%
2005
2273,1
11,11%
2006
2785,0
22,52%
2007
3339,5
19,91%
2008
3950,9
18,31%
2009
4948,7
25,26%
2010
5603,9
13,24%
2011
5945,1
6,09%


Tahun
Analisis pertumbuhan ekonomi
2002
· PDB Indonesia selama tahun 2002 meningkat sebesar 16,30 persen dibandingkan PDB tahun 2001. Pertumbuhan ini terjadi pada semua sektor ekonomi, tertinggi pada sektor pengangkutan-komunikasi sebesar 7,83 persen, listrik-gas-air bersih sebesar 6,17 persen, dan keuangan-persewaan-jasa perusahaan sebesar 5,55 persen.
· Perekonomian Indonesia tahun 2002 yang diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp. 1.610,0 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 1993 sebesar Rp. 426,7 triliun.
· Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2002 digerakkan oleh kegiatan konsumsi rumahtangga dan konsumsi pemerintah. Hal ini terlihat dari besarnya konsumsi rumahtangga dan konsumsi pemerintah pada tahun 2002 terhadap tahun 2001 masing-masing tumbuh sebesar 4,72 persen dan 12,79 persen. Sedangkan pembentukan modal tetap bruto dan ekspor masing-masing turun sebesar minus 0,19 persen dan minu
· Fluktuasi jangka pendek perekonomian Indonesia selama tahun 2002 tercermin pada PDB triwulanan. Pertumbuhan PDB triwulan IV tahun 2002 dibandingkan dengan PDB triwulan III tahun 2002 (q to q) menurun sebesar minus 2,61 persen. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh pola musiman di sektor pertanian yang turun sebesar minus 20,26 persen. Kemudian PDB triwulan III dibanding triwulan II meningkat sebesar 2,75 persen, dan PDB triwulan II terhadap triwulan I meningkat sebesar 1,30 persen.
· Perbandingan PDB riil triwulanan tahun 2002 dengan triwulan yang sama pada tahun 2001 menggambarkan laju pertumbuhan (year on year) tanpa pengaruh musiman. Laju pertumbuhan triwulan IV sebesar 3,82 persen, triwulan III sebesar 4,25 persen, triwulan II sebesar 3,87 persen, dan triwulan I tumbuh sebesar 2,67 persen.
2003
· PDB Indonesia selama tahun 2003 meningkat sebesar 8,02 persen dibandingkan tahun 2002. Pertumbuhan ini terjadi pada semua sektor ekonomi, tertinggi pada sektor pengangkutan-komunikasi sebesar 10,69 persen, diikuti oleh sektor listrik-gas-air bersih sebesar 6,82 persen, dan sektor bangunan sebesar 6,70 persen.
· Perekonomian Indonesia tahun 2003 yang diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp. 1.786,7 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 1993 sebesar Rp. 444,5 triliun.
· Perbandingan PDB riil triwulanan tahun 2003 dengan triwulan yang sama pada tahun 2002 menggambarkan laju pertumbuhan (year on year) tanpa pengaruh musiman. Laju pertumbuhan triwulan IV sebesar 4,35 persen, triwulan III sebesar 3,97 persen, triwulan II sebesar 3,65 persen, dan triwulan I tumbuh sebesar 4,45 persen.
· Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2003 digerakkan oleh semua komponen PDB penggunaan yaitu konsumsi rumahtangga tumbuh sebesar 4,02 persen, konsumsi pemerintah sebesar 9,84 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 1,36 persen, ekspor sebesar 4,04 persen dan impor tumbuh sebesar 1,96 persen.
2004
· Perekonomian Indonesia tahun 2004 yang diukur berdasarkan besaran Produk DomestikBruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp. 2.303,0 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2000 sebesar Rp. 1.660,6 triliun, dengan pertumbuhan mencapai 27,03 persen dibanding tahun 2003.
· Pertumbuhan PDB terjadi di hampir semua sektor ekonomi kecuali sektor pertambangan dan penggalian. Pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 12,70 persen, diikuti oleh sektor bangunan sebesar 8,17 persen, dan sektor keuangan,persewaan dan jasa perusahaan 7,72 persen.
· Secara triwulanan, pertumbuhan PDB triwulan IV tahun 2004 dibandingkan dengan PDB triwulan III tahun 2004 (q-to-q) menurun sebesar minus 1,55 persen. Kemudian PDB triwulan III dibanding triwulan II meningkat sebesar 3,36 persen, dan PDB triwulan II terhadap triwulan I meningkat sebesar 1,63 persen.
· Selanjutnya, perbandingan PDB riil triwulanan tahun 2004 dengan triwulan yang samatahun 2003 (year-on-year) menunjukkan laju pertumbuhan triwulan IV mencapai 6,65persen, triwulan III 5,10 persen, triwulan II sebesar 4,38 persen, dan triwulan I 4,38 persen.
· Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2004 didorong oleh meningkatnya permintaanmasyarakat yang meliputi pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 4,94 persen,konsumsi pemerintah 1,95 persen, pembentukan modal tetap bruto 15,71 persen, ekspor 8,47 persen; serta pertumbuhan impor sebesar 24,95 persen.
2005
· Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2005 dibanding tahun 2004 mencapai 11,11 persen. Pertumbuhan PDB terjadi di hampir semua sektor ekonomi di mana pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 12,97persen, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 8,59 persen, dan sektor bangunan 7,34 persen.
· Perekonomian Indonesia tahun 2005 yang diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp 2.729,7 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2000 sebesar Rp1.749,5 triliun.
· Secara triwulanan, pertumbuhan PDB triwulan IV tahun 2005 dibandingkan dengan PDB triwulan III tahun 2005 (q-to-q) menurun sebesar minus 2,18 persen. Kemudian PDB triwulan III dibanding triwulan II meningkat sebesar 3,05 persen, dan PDB triwulan IIterhadap triwulan I meningkat sebesar 1,69 persen.
· Selanjutnya, perbandingan PDB riil triwulanan tahun 2005 dengan triwulan yang sama tahun 2004 (year-on-year) menunjukkan laju pertumbuhan triwulan IV mencapai 4,90 persen, triwulan III 5,63 persen, triwulan II sebesar 5,63 persen, dan triwulan I 6,25 persen.
· Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut didorong oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 3,95 persen, konsumsi pemerintah sebesar 8,06 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 9,93 persen, kemudian ekspor sebesar 8,60 persen; selain itu dipengaruhi juga oleh pertumbuhan impor sebesar 12,35 persen.
2006
· Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun 2006 yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat sebesar 22,52 persen terhadap tahun 2005. Semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor pengangkutan dan komunikasi 13,6 persen dan terendah di sektor pertambangan dan penggalian 2,2 persen.
· Besaran PDB Indonesia pada tahun 2006 atas dasar harga berlaku mencapai Rp3.338,2 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp1.846,7 triliun.
· Secara triwulanan, PDB Indonesia triwulan IV/2006 menurun 1,9 persen dibandingkan dengan triwulan III/2006 (q-to-q), dan bila dibandingkan dengan triwulan IV/2005 (y-on-y) tumbuh sebesar 6,1 persen.
· Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2006 mencapai 6,1 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan PDB secara keseluruhan yang besarnya 5,5 persen.
· Di sisi penggunaan, sebagian besar PDB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga sebesar 62,7 persen, konsumsi pemerintah 8,6 persen, pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik 24,0 persen serta ekspor neto 4,8 persen (ekspor 30,9 persen dan impor 26,1 persen).
· sebelumnya Rp12,1 juta.
2007
· Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2007 meningkat sebesar 19,91 persen terhadap tahun 2006, terjadi pada semua sektor ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor pengangkutan-komunikasi 14,4 persen dan terendah di sektor pertambangan-penggalian 2,0 persen. Pertumbuhan PDBtanpa migas pada tahun 2007 mencapai 6,9 persen.
· Besaran PDB Indonesia pada tahun 2007 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 3.957,4 triliun,sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp 1.964,0 triliun.
· Secara triwulanan, PDB Indonesia triwulan IV/2007 dibandingkan dengan triwulan III/2007 (q-to-q)menurun sebesar minus 2,1 persen, dan bila dibandingkan dengan triwulan IV/2006 (y-on-y) tumbuhsebesar 6,3 persen.
· Dari sisi penggunaan, sebagian besar PDB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga yaitusebesar 63,5 persen, konsumsi pemerintah 8,3 persen, pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik24,9 persen serta ekspor neto 4,1 persen (ekspor 29,4 persen dan impor 25,3 persen).
· Semua komponen PDB penggunaan mengalami pertumbuhan pada tahun 2007, dengan pertumbuhantertinggi pada pembentukan modal tetap bruto sebesar 9,2 persen, diikuti oleh ekspor 8,0 persen,konsumsi rumah tangga 5,0 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah 3,9 persen, serta impor sebesar8,9 persen.
· Sumber utama pertumbuhan ekonomi 6,3 persen adalah ekspor 3,8 persen, diikuti konsumsi rumahtangga2,9 persen, pembentukan modal tetap bruto 2,0 persen, konsumsi pemerintah 0,3 persen serta impor 3,3persen.
2008
· Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2008 meningkat sebesar 18,31 persen terhadap tahun 2007, terjadi pada semua sektor ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor pengangkutan dan komunikasi 16,7 persen dan terendah di sektor pertambangan dan penggalian 0,5 persen. Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2008 mencapai 6,5 persen.
· Besaran PDB Indonesia pada tahun 2008 atas dasar harga berlaku mencapai Rp4.954,0 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp2.082,1 triliun.
· Secara triwulanan, PDB Indonesia triwulan IV-2008 dibandingkan dengan triwulan III-2008 (q-to-q) menurun sebesar minus 3,6 persen, dan bila dibandingkan dengan triwulan IV-2007 (y-on-y) tumbuh sebesar 5,2 persen.
· Dari sisi penggunaan, PDB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga sebesar 61,0 persen, konsumsi pemerintah 8,4 persen, pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik 27,7 persen, ekspor 29,8 persen dan impor 28,6 persen.
· sebesar 4,2 persen.
2009
· Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2009 meningkat sebesar 25,26 persen terhadap tahun 2008, terjadi pada semua sektor ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi di Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 15,5 persen dan terendah di Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 1,1 persen. Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2009 mencapai 4,9 persen.
· Besaran PDB Indonesia pada tahun 2009 atas dasar harga berlaku mencapai Rp5.613,4 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp2.177,0 triliun.
· Secara triwulanan, PDB Indonesia triwulan IV-2009 dibandingkan dengan triwulan III-2009 (q-to-q) menurun sebesar 2,4 persen, dan bila dibandingkan dengan triwulan IV-2008 (y-on-y) tumbuh sebesar 5,4 persen.
· Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 sebesar 4,5 persen, terjadi pada pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 15,7 persen, diikuti oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga 4,9 persen, dan pembentukan modal tetap bruto 3,3 persen. Sedangkan komponen ekspor tumbuh minus 9,7 persen, dan impor minus 15,0 persen.
· Pada tahun 2009, dari sisi penggunaan, PDB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga sebesar 58,6 persen, konsumsi pemerintah 9,6 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi fisik 31,1 persen dan ekspor 24,1 persen. Sedangkan untuk penyediaan dari impor sebesar 21,3 persen.
2010
· Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2010 meningkat sebesar 13,24 persen terhadap tahun 2009, terjadi pada semua sektor ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi di Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 13,5 persen dan terendah di Sektor Pertanian 2,9 persen. Sementara pertumbuhan PDB tanpa migas tahun 2010 mencapai 6,6 persen.
· Besaran PDB Indonesia tahun 2010 atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.422,9 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp2.310,7 triliun.
· Secara triwulanan, PDB Indonesia Triwulan IV-2010 dibandingkan dengan Triwulan III-2010 (q-to-q) menurun sebesar 1,4 persen, tapi bila dibandingkan dengan Triwulan IV-2009 (y-on-y) tumbuh sebesar 6,9 persen.
· Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 menurut sisi penggunaan terjadi pada komponen ekspor sebesar 14,9 persen, diikuti pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 8,5 persen, pengeluaran konsumsi rumah tangga 4,6 persen, dan pengeluaran konsumsi pemerintah 0,3 persen. Sedangkan komponen impor sebagai faktor pengurang mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 17,3 persen.







SIMPULAN DAN SARAN




Kesimpulan
Jadi, dapat disimpulkan bahwa angka indeks memiliki peran yang besar terhadap perhitungan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan hasil pertumbuhan ekonomi negara Indonesia dari tahun 2002-2011. Melalui perhitungan angka indeks kita dapat mengetahui dan mengukur secara kuantitatif terjadinya perubahan dalam dua atau lebih waktu yang berlainan, seperti halnya pertumbuhan ekonomi negara Indonesia. Pertumbuhan negara Indonesia selama tahun 2002-2011 secara garis besar mengalami peningkatan. Hal tersebut didorong oleh faktor-faktor PDB masyarakat, ekspor-impor, sektor penambangan, sektor pengangkutan dan komunikasi dan lain-lain. Berdasarkan perhitungan angka indeks di atas, pertumbuhan ekonomi negara setiap tahunnya berbeda-beda dan hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagaimana yang telah disebut di atas. Berikut adalah pertumbuhan ekonomi dari tahun 2002-2011, yaitu sebesar 16,30%; 8,02%; 27,03%; 11,11%; 22,52%; 19,91%; 18,31%; 25,26%; 13,24%; 6,09%

Saran
Saran saya melalui pembuatan jurnal ilmiah ini adalah diharapkan para pembaca dapat mengembangkan lebih lagi teori-teori perhitungan angka indeks, baik yang berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi ataupun bidang lainnya, serta menyarankan agar para pembaca dapat menerapkan teori-teori perhitungan angka indeks ini dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA
Harianti, M. Asni, M. Sienly Veronica, Nur, Santy Setiawan, Dini Iskandar. 2011. Statistika 1. Bandung : Andi.



[1] http://tugaaaass.blogspot.com/2011/03/neraca-pembayaran-dan-pendapatan.html
[2] Solow residual kadang disebut “ rate of growth of multifactor or total factor productivity”. Dalam model, Solow residual merupakan selisih antara tingkat pertumbuhan putput yang diamati dan bagian dari pertumbuhan output yang dijelaskan oleh kapital dan tenaga kerja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar