Halaman

Kamis, 31 Mei 2012

JIKA SBI NAIK, MAKA SUKU BUNGA TABUNGAN NAIK


"JIKA SBI NAIK, MAKA SUKU BUNGA TABUNGAN NAIK"

BI menaikan suku bunga dengan tujuan untuk mengendalikan inflasi (menurunkan jumlah uang beredar).

Bila BI menaikan suku bunga imbalan bagi bank-bank yang menyimpan uangyna di BI, maka Bank komersial akan tertarik untuk menyimpan dananya di pasar uang lebih banyak.

Bank komersial akan berusaha mendapatkan uang sebanyak mungkin dari para nasabahnya. Tentu saja salah satu cara untuk memicu dana masuk ke bank komersial ini adalah dengan menaikan suku bunga imblan pagi para nasabahnya (bisa bunga tabungan, bunga deposito, dll).

Nasabah akan tertarik untuk menyimpan dananya di Bank bila imbalannya naik. Disisi lain Bank juga tidak mau menanggung penurunan margin labanya (selisih pendapatan bunga kredit dikurang bunga yang dibayarkan bank ke nasabah). Maka Bank akan menaikan bunga pinjamannya.

Sehingga margin laba Bank sebelum atau setelah perubahan rate BI akan relativ tidak berubah pula.

Perbankan

Kenaikan suku bunga SBI tersebut tentu akan segera direspon perbankan dengan menyesuaikan suku bunganya, terutama suku bunga dana. Penyesuaian suku bunga perbankan tersebut dilakukan untuk menjaga dana nasabah agar tidak beralih ke instrumen investasi lain di luar produk perbankan.
Direktur PT BII Tbk Rudi Hamdani mengatakan perbankan sampai saat ini diperkirakan masih akan mempertahankan tingkat suku bunganya, sekalipun BI telah menaikkan suku bunga SBI untuk jangka satu bulan sebesar 15 poin menjadi 7,53 persen.
Namun, kalau kondisi pasar makin menekan suku bunga, maka bank-bank dalam negeri akan segera menyesuaikan tingkat suku bunganya. “Kenaikan tingkat suku bunga SBI lebih terpicu oleh kebijakan bank Sentral AS yang menaikkan suku bunga The Fed Fund yang sudah mencapai 2,75 persen,” ujarnya.
Bagi perbankan, kata Rudi, efisiensi merupakan langkah yang tepat untuk dilakukan saat ini, namun apabila situasi pasar sudah sulit untuk di atasi dan dalam upaya menjaga nasabah, perbankan akan segera menaikkan suku bunganya.
“Perbankan saat ini sedang memfokuskan perhatiannya terhadap dana pihak ketiga (DPK), dimana dana mahal yakni deposito masih mendominasi DPK. Karena itu, komposisinya harus berubah dana tabungan dan giro harus lebih besar dari deposito,” tambahnya.
Secara terpisah, ekonom dari Bank BNI Ryan Kiryanto memperkirakan, perbankan akan menaikkan suku bunga dananya antara 0,5% - 1% untuk menjaga loyalitas nasabah, menyusul naiknya suku bunga The Fed hingga 2,75% dan kenaikan laju inflasi dalam negeri.
Kenaikan suku bunga dana tersebut untuk mengimbangi kenaikan suku bunga di luar, sehingga nasabah tidak mengalihkan dananya ke instrumen investasi lain.
“Tekanan internal seperti inflasi dan kurs rupiah serta tekanan kenaikan The Fed Fund, secara langsung akan mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga SBI. Kalau SBI naik hingga 8%, maka perbankan juga akan menaikkan suku bunga dananya sekitar 0,5-1 %,” jelasnya.
Kalau suku bunga dana baik deposito, giro, maupun tabungan tidak dinaikkan, para nasabah bank, terutama yang sensitif dengan perubahan suku bunga, dipastikan akan mengalihkan dananya ke SBI ataupun instrumen investasi lain di luar perbankan yang lebih memberikan keuntungan bunga tinggi.
“Coba inflasi sekarang cukup tinggi, sekitar 8%, sementara suku bunga deposito hanya 6%. Artinya return yang diterima nasabah justru negatif karena masih harus dipotong pajak deposito. Kalau bank tidak menaikkan suku bunga dananya, ya harus siap kalau ditinggal nasabahnya,” tambahnya.
Kendati suku bunga dana akan naik, tetapi lanjut Ryan, perbankan tidak perlu menaikkan suku bunga pinjaman (kredit). Kenaikan suku bunga dana tidak akan memberatkan perbankan, kalau bank bisa melakukan efisiensi. Kalau suku bunga pinjaman dinaikkan, justru akan mengurangi kemampuan ekspansi perbankan dalam menyalurkan kredit, karena sektor riil akan cenderung mencari sumber pembiayaan lain yang lebih rendah tingkat bunganya.
“Kalau perbankan menaikkan suku bunga pinjamannya, sektor riil pasti lebih memiliih mencari sumber pembiayaan lain, misalnya menerbitkan obligasi. Selain lebih cepat, bunga dan jatuh temponya lebih ringan bagi mereka,” tambahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar