Rabu, 01 Mei 2013
Minggu, 28 April 2013
ANALISIS DATA PENELITIAN KUANTITATIF
ANALISIS
DATA PENELITIAN KUANTITATIF
Dalam penelitian kuantitatif,
analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau
sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan
data berdasarkan variable dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan
variable dari seluruh responden, menyajikan data tiap variable yang diteliti,
melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan
untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.
Analisis data dalam penelitian
kuantitatif menggunakan statistic. Ada 2 macam statistic yaitu statistic
deskriptif dan statistic inferensial. Statistic inferensial meliputi statistic
parametris dan nonparametris.
STATISTIK DESKRIPTIF DAN INFERENSIAL
· Statistic
deskriptif adalah statistic yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara
mendeskripsikan atau menggambarkan data yang terkumpul sebagaimana adanya tanpa
bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Penelitian yang dilakukan pada populasi (tanpa diambil sampelnya) jelas akan
menggunakan statistic deskriptif dalam analisisnya. Termasuk dalam statistic
deskriptif adalah penyajian data melalui table, grafik, diagram lingkaran,
pictogram, perhitungan modus, medien, mean (pengukuran tendensi sentral),
perhitungan desil, persentil, perhitungan penyebaran data melalui perhitungan
rata-ratadan standar devisi, perhitungan prosentase. Dalam statistic deskriptif
juga dapat dilakukan mencari kuatnya hubungan antara variable melalui analisis,
korelasi, melakukan prediksi dengan analisis regresi, dan membuat perbandingan
dengan membandingkan rata-rata data sampel atau populasi.
· Statistic inferensial adalah adalah tehnik statistic yang digunakan
untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Cocok
digunakana pada sampel dari populasi yang jelas dan tehnik pengambilan
dilakukan secara random. Satatistik ini kebenarannya bersifat perluang
(probability). Kesimpulan dari sampel ini akan diberlakukan untuk populasi itu
mempunyai peluang kesalan dan kebenaran yang dinyatakan dalam bentuk
prosentase. Bila peluang kesalahan 5% maka taraf kepercayaan 95%, bila peluang
kesalahan 1%, maka taraf kepercayaannya 99%. Peluang kesalahan dan kepercayaan
ini disebut dengan taraf signifikansi. Signifikansi adalah kemampuan untuk
digeneralisasikan dengan kesalahan tertentu. Ada hubungan signifikan berarti
hubungan itu dapat digeneralisasikan. Ada perbedaan yang signifikan berarti hubungan
itu dapat digeneralisasikan.
1. Statistik
Parametris
Statistik parametris digunakan untuk
menguji parameter populasi melalui statistic, atau menguji ukuran populasi
melalui data sampel. Parameter populasi itu meliputi: rata-rata notasi µ (mu),
simpangan baku σ (sigma), dan varians σ2. Parameter populasi itu meliputi: rata-rata X (X bar),
simpangan baku s, dan varians s2. Statistik
ini memerlukan banyak asumsi. Asumsi utama adalah data yang akan dianalisis
harus berdistribusi normal. Dalam penggunaan salah satu test mengharuskan data
dua kelompok atau lebih yang diuji harus homogeny, dalam regresi harus
terpenuhi asumsi literitas. Bila asumsi yang melandasi dapat terpenuhi,
statistic parametris mempunyai kekuatan yang lebih daripada statistic nonparametris.
Penggunaan parametris kebanyakan untuk menganalisis data interval dan ratio.
2. Statistik
Nonparametris
Statistik nonparametris tidak
menguji parameter populasi, tetapi menguji distribusi. Statistik ini tidak
menuntut terpenuhi banyak asumsi, misalnya data yang akan dianalisis tidak
harus berdistribusi normal. Penggunaan nonparametris kebanyakan untuk
menganalisis data nominal, ordinal.
Dalam penelitian kuantitatif yang
menggunakan statistic, ada dua hal utama ynga harus diperhatikan:
i. MACAM DATA
1. Data
Nominal
Menuruti Moh. Nazir, data nominal adalah ukuran yang paling
sederhana, dimana angka yang diberikan kepada objek mempunyai arti sebagai
label saja, dan tidak menunjukkan tingkatan apapun. Ciri-ciri data nominal adalah hanya
memiliki atribut, atau nama, atau diskrit. Data nominal merupakan data kontinum
dan tidak memiliki urutan.
2. Data Ordinal
Data ini memiliki nama (atribut), juga
memiliki peringkat atau urutan. Angka yang diberikan mengandung tingkatan. Ia
digunakan untuk mengurutkan objek dari yang paling rendah sampai yang paling
tinggi, atau sebaliknya. Ukuran ini tidak memberikan nilai
absolut terhadap objek, tetapi hanya memberikan peringkat saja.
3. Data Interval
Data ini memperlihatkan jarak yang sama
dari ciri atau sifat objek yang diukur. Akan
tetapi ukuran interval tidak memberikan jumlah absolut dari objek yang diukur.
4. Data
Ratio
Ukuran yang meliputi semua ukuran di atas ditambah dengan
satu sifat yang lain, yakni ukuran yang memberikan keterangan tentang nilai
absolut dari objek yang diukur dinamakan ukuran rasio (data rasio). Data rasio,
yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala rasio memiliki titik nol.
ii. BENTUK
HIPOTESIS
Bentuk hipotesis ada 3 yaitu :
1. Hipotesis
Deskriptif
Hipotesis deskriptif yang akan diuji
dengan statistic parametris merupakan dugaan terhadap nilai dalam satu sampel
(unit sampel) dibandingkan dengan standart, sedangkan hipotesis yang akan diuji
dengan statistic nonparametris merupakan dugaan ada tidaknya perbedaan secara
signifikan nilai antar kelompok dalam satu sampel.
2. Hipotesis
Komparatif
Hipotesis komparatif merupakan dugaan
ada tidaknya perbedaan secara signifikan nilai-nilai dua kelompok atau lebih.
Dibedakan menjadi 2:
a. Komparatif
untuk 2 sampel
b. Komparatif
lebih dari 2 sampel
3. Hipotesis
Assosiatif
Hipotesis Assosiatif adalah dugaan
terhadap ada tidaknya hubungan secara signifikan aantara dua variable atau
lebih.
Secara statistic hipotesis diartikan sebagai pernyataan mengenai keadaan
populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari
sampel penelitian. Oleh karena itu dalam statistic yang diuji adalah hipotesis
nol. Hipotesis nol adalah penyetaan tidak adanya perbedaan antara parameter
dengan statistic. Lawan dari hipotesis nol adalah hipotesis alternative yang
menyatakan ada perbedaan antara parameter dan statistic. Hipotesis nol diberi
notasi Ho, dan hipotesis alternative diberi notasi Ha.
1. Taraf
Kesalahan
Pada dasarnya menguji hipotesis itu
adalah menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel. Terdapat dua cara
menaksir yaitu a point estimate adalah suatu taksiran parameter populasi
berdasarkan satu nilai dari rata-rata data sampel dan interval estimate adalah
suatu taksiran parameter populasi berdasarkan nilai interval rata-rata data
sampel.
Menaksir parameter populasi yang
menggunakan nilai tunggal (point estimate) akan mempunyai resiko kesalahan yang
lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan interval estimate. Makin
besar interval taksirannya maka akan semakin kecil kesalahannya. Untuk
selanjutnya kesalahan taksiran ini dinyatakan dalam peluang yang berbentuk
prosentase.
2. Dua Kesalahan
dalam Menguji Hipotesis
a. Kesalahan tipe
I adalah suatu kesalahan bila menolak hipotesis nol (Ho) yang benar (seharusnya
diterima). Tingkat kesalahan dinyatakan dengan α.
b. Kesalahan tipe
II adalah kesalahan bila menerima hipotesis yang salah (seharusnya ditolak). Tingkat kesalahan dinyatakan dengan β.
Bila nilai statistic (data sampel)
yang diperoleh dari hasil pengumpulan data sama dengan nilai parameter populasi
atau masih berada pada nilai interval parameter populasi, maka hipotesis yang
dirumuskan 100% diterima.Jadi tidak terdapat kesalahan tetapi bila nilai
statistic di luar nilai parameter populasi akan terdapat kesalahan. Kesalahan
ini semakin besar bila nilai statistic jauh dari nilai parameter populasi.
Tingkat kesalahan ini dinamakan level of significant atau tingkat signifikan.
3. Macam
Pengujian Hipotesis
Terdapat 3 macam bentuk pengujian hipotesis yaitu uji dua
pihak (two tail), pihak kanan, dan pihak kiri (one tail). Jenis uji mana yang
akan dipakai tergantung pada bunyi kalimat hipotesisnya.
a. Uji
dua pihak digunakan bila hipotesis nol (Ho) “sama dengan” dan hipotesi
alternatifnya (Ha) berbunyi “tidak sama dengan” (Ho = ; Ha ≠)
b. Uji
pihak kiri digunakan apabila hipotes nol (Ho) berbunyi “lebih besar atau sama
dengan (≥)” dan hipotesis alternatifnya berbunyi “lebih kecil (<)”.
c. Uji
pihak kanan digunakan apabila hipotesis nol (Ho) berbunyi “lebih kecil atau
sama dengan (≤)” dan hipotesis alternatifnya (Ha) berbunyi “lebih besar (>)”
Sugiyono. Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif dan R&D. 2011. Bandung : ALFABETA.
Suhartono. Data Nominal, data ordinal,
data interval dan data ratio. 2009.
Kamis, 04 April 2013
Pendekatan, Jenis dan Metode Penelitian Pendidikan
Pendekatan, Jenis dan Metode Penelitian Pendidikan
Metode penelitian berhubungan erat dengan prosedur, teknik, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan pendekatan penelitian yang dipilih. Prosedur, teknik, serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan metode penelitian yang ditetapkan. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti perlu menjawab sekurang-kurangnya tiga pertanyaan pokok (Nazir, 1985) yaitu:
- Urutan kerja atau prosedur apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan suatu penelitian?
- Alat-alat (instrumen) apa yang akan digunakan dalam mengukur ataupun dalam mengumpulkan data serta teknik apa yang akan digunakan dalam menganalisis data?
- Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut?
Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat membantu peneliti untuk mengendalikan kegiatan atau tahap-tahap kegiatan serta mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitian. Metode penelitian menggambarkan rancangan penelitian yang meliputi prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data, serta dengan cara apa data tersebut diperoleh dan diolah/dianalisis. Dalam prakteknya terdapat sejumlah metode yang biasa digunakan untuk kepentingan penelitian.
Berdasarkan sifat-sifat masalahnya, Suryabrata (1983) mengemukakan sejumlah metode penelitian yaitu sebagai berikut
- Penelitian Historis yang bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif.
- Penelitian Deskriptif yang yang bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu.
- Penelitian Perkembangan yang bertujuan untuk menyelidiki pola dan urutan pertumbuhan dan/atau perubahan sebagai fungsi waktu.
- Penelitian Kasus/Lapangan yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungansuatu obyek
- Penelitian Korelasional yang bertujuan untuk mengkaji tingkat keterkaitan antara variasi suatu faktor dengan variasi faktor lain berdasarkan koefisien korelasi
- Penelitian Eksperimental suguhan yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan melakukan kontrol/kendali
- Penelitian Eksperimental semu yang bertujuan untuk mengkaji kemungkinan hubungan sebab akibat dalam keadaan yang tidak memungkinkan ada kontrol/kendali, tapi dapat diperoleh informasi pengganti bagi situasi dengan pengendalian.
- Penelitian Kausal-komparatif yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat, tapi tidak dengan jalan eksperimen tetapi dilakukan dengan pengamatan terhadap data dari faktor yang diduga menjadi penyebab, sebagai pembanding.
- Penelitian Tindakan yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru atau pendekatan baru dan diterapkan langsung serta dikaji hasilnya.
McMillan dan Schumacher (2001) memberikan pemahaman tentang metode penelitian dengan mengelompokkannya dalam dua tipe utama yaitu kuantitatif dan kualitatif yang masing-masing terdiri atas beberapa jenis metode sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut.
Jenis-Jenis Metode Penelitian
Jenis-jenis penelitian lain dapat dibedakan atas dasar beberapa sumber referensi berikut ini.
Jenis-Jenis Metode Penelitian Menurut Ahli
Banyaknya jenis metode penelitian sebagaimana dikemukakan di atas, dilandasi oleh adanya perbedaan pandangan dalam menetapkan masing-masing metode. Uraian selanjutnya tidak akan mengungkap semua jenis metode yang dikemukakan di atas tetapi membahas secara singkat beberapa metode penelitian sederhana yang sering digunakan dalam penelitian pendidikan.
A. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah-masalah actual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung. Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakukan khusus terhadap peristiwa tersebut. Variabel yang diteliti bisa tunggal (satu variabel) bisa juga lebih dan satu variabel.
B. Studi Kasus
Penelitian Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seseorang individu atau kelompok yang dipandang mengalami kasus tertentu. Misalnya, mempelajari secara khusus kepala sekolah yang tidak disiplin dalam bekerja. Terhadap kasus tersebut peneliti mempelajarinya secara mendalam dan dalam kurun waktu cukup lama. Mendalam, artinya mengungkap semua variable yang dapat menyebabkan terjadinya kasus tersebut dari berbagai aspek.
Tekanan utama dalam studi kasus adalah mengapa individu melakukan apa yang dia lakukan dan bagaimana tingkah lakunya dalam kondisi dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Untuk mengungkap persoalan kepala sekolah yang tidak disiplin peneliti perlu mencari data berkenaan dengan pengalamannya pada masa lalu, sekarang, lingkungan yang membentuknya, dan kaitan variabel-variabel yang berkenaan dengan kasusnya. Data diperoleh dari berbagai sumber seperti rekan kerjanya, guru, bahkan juga dari dirinya. Teknik memperoleh data sangat komprehensif seperti observasi perilakunya, wawancara, analisis dokumenter, tes, dan lain-lain bergantung kepada kasus yang dipelajari.
Setiap data dicatat secara cermat, kemudian dikaji, dihubungkan satu sama lain, kalau perlu dibahas dengan peneliti lain sebelum menarik kesimpulankesimpulan penyebab terjadinya kasus atau persoalan yang ditunjukkan oleh individu tersebut. Studi kasus mengisyaratkan pada penelitian kualitatif. Kelebihan studi kasus dari studi lainnya adalah, bahwa peneliti dapat mempelajari subjek secara mendalam dan menyeluruh.
Namun kelemahanya sesuai dengan sifat studi kasus bahwa informasi yang diperoleh sifatnya subyektif, artinya hanya untuk individu yang bersangkutan dan belum tentu dapat digunakan untuk kasus yang sama pada individu yang lain. Dengan kata lain, generalisasi informasi sangat terbatas penggunaannya. Studi kasus bukan untuk menguji hipotesis, namun sebaliknya hasil studi kasus dapat menghasilkan hipotesis yang dapat diuji melalui penelitian lebih lanjut. Banyak teori, konsep dan prinsip dapat dihasilkan dan temuan studi kasus.
C. Penelitian Survei
Penelitian survei cukup banyak digunakan untuk pemecahan masalah-masalah pendidikan termasuk kepentingan perumusan kebijaksanaan pendidikan. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan informasi tentang variabel dari sekolompok obyek (populasi). Survei dengan cakupan seluruh populasi (obyek) disebut sensus. Sedangkan survei yang mempelajari sebagian populasi dinamakan sampel survei. Untuk kepentingan pendidikan, survei biasanya mengungkap permasalahan yang berkenaan dengan berapa banyak siswa yang mendaftar dan diterima di suatu sekolah? Berapa jumlah siswa rata-rata dalam satu kelas? Berapa banyak guru yang telah memenuhi kualifikasi yang telah ditentukan? Pertanyaan-pertanyaan kuantitatif seperti itu diperlukan sebagai dasar perencanaan dan pemecahan masalah pendidikan di sekolah. Pada tahap selanjutnya dapat pula dilakukan perbadingan atau analsis hubungan antara variabel tersebut.
D. Studi Korelasional
Seperti halnya survei, metode deskriptif lain yang sering digunakan dalam pendidikan adalah studi korelasi. Studi ini mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yakni sejauh mana variasi dalam satu variable berhubungan dengan variasi dalam variabel lain. Derajat hubungan variable-variabel dinyatakan dalam satu indeks yang dinamakan koefisien korelasi. Koefisien korelasi dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang hubungan antar variabel atau untuk menyatakan besar-kecilnya hubungan antara kedua variabel.
Studi korelasi bertujuan menguji hipotesis, dilakukan dengan cara mengukur sejumlah variabel dan menghitung koefisien korelasi antara variabel-variabel tersebut, agar dapat ditentukan variabel-variabel mana yang berkorelasi. Misalnya peneliti ingin mengetahui variabel-variabel mana yang sekiranya berhubungan dengan kompetensi profesional kepala sekolah.
Semua variabel yang ada kaitannya (misal latar belakang pendidikan, supervisi akademik, dll) diukur, lalu dihitung koefisien korelasinya untuk mengetahui variabel mana yang paling kuat hubungannya dengan kemampuan manajerial kepala sekolah.
E. Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat. Penelitian eksperimen merupakan metode inti dari model penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam metode eksperimen, peneliti harus melakukan tiga persyaratan yaitu kegiatan mengontrol, kegiatan memanipulasi, dan observasi. Dalam penelitian eksperimen, peneliti membagi objek atau subjek yang diteliti menjadi 2 kelompok yaitu kelompok treatment yang mendapatkan perlakuan dan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan.
F. Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleleksi-diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktek yang dilakukan sendiri. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman mengenai praktek tersebut dan situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan. Terdapat dua esensi penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu: (1) Untuk memperbaiki praktek; (2) Untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman/kemampuan para praktisi terhadap praktek yang dilaksanakannya; (3) Untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan.
G. Metode Penelitian dan Pengembangan (R&D)
Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah strategi atau metode penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktek. Yang dimaksud dengan Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah rangkaian proses atau langkah-langkah dalam rangka mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada agar dapat dipertanggung jawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas atau di laboratorium, tetapi bisa juga perangkat lunak (software), seperti program komputer untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau laboratorium, ataupun model-model pendidikan, pembelajaran, pelatihan, bimbingan, evaluasi, sistem manajemen, dan lain-lain.
Demikianlah beberapa metode penelitian dalam pendidikan, sumber utama dari penulisan metode penelitian
Read more: METODE PENELITIAN >> Pendekatan, Jenis dan Metode Penelitian
Senin, 01 April 2013
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perekrutan
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Perekrutan
Secara garis besar terdapat dua faktor yang
mempengaruhi proses pengadaan tenaga, yaitu faktor organisasi dan faktor lingkungan.
Faktor
Organisasi
Kesan
yang dimiliki perusahaan
Banyak
faktor di dalam organisasi yang dapat mempengaruhi berhasil tidaknya program
pengadaan tenaga kerja. Kesan atau image (citra) baik yang disajikan oleh
instansi/ perusahaan akan mempengaruhi kemampuan organisasi/perusahaan tersebut
di dalam menarik calon tenaga kerja. Kenyataan menunjukkan bahwa iklan yang
bagus dan menarik hubungan masyarakat (public relations) dapat
meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang organisasi/ perusahaan tersebut,
dan meningkatkan apresiasi umum tentang organisasi/ perusahaan. Besarnya
pengetahuan masyarakat tentang suatu organisasi/ perusahaan dan baiknya
apresiasi serta image organisasi/perusahaan tersebut akan berdampak pada
besarnya kemungkinannya untuk mendapatkan calon tenaga kerja yang bermutu.
Selain
melalui penciptaan image baik melalui media massa, penciptaan image juga dapat
dilakukan oleh karyawan yang telah ada. Sebagai contoh, seorang karyawan suatu
organisasi/perusahaan yang memiliki masalah dengan gaya kepemimpinan atasannya
atau merasakan adanya kesenjangan antara harapan yang diberikan dengan
kenyataan yang dihadapi akan mengeluarkan komentar yang sedikit banyaknya
menurunkan citra organisasi/perusahaan. Kondisi seperti ini pada gilirannya
menyebabkan organisasi/perusahaan tersebut kesulitan mendapatkan calon pegawai
yang bermutu dari masyarakat umum.
Perencanaan
SDM
Membantu
proses perekrutan menjadi lebih efektif, karena melalui perencanaan SDM
perusahaan telah mengetahui pekerjaan mana yang harus dipemuhi dari sumber
eksternal atau internal.
Persyaratan
pekerjaan
Hal
ini akan membatasi perekrutan yang dilakukan, karena hanya SDM yang sesuai
dengan ketentuan yang dapat mengajukan lamaran pekerjaan.
Proses
perekrutan masa lampau
Hasil
evaluasi proses perekrutan yang pernah dilakukan menjadi feedback untuk
proses berikutnya agar menjadi lebih baik dan efektif.
Faktor
Lingkungan
Faktor
lingkungan yang mempengaruhi pengadaan tenaga kerja di antaranya adalah :
Kondisi
Pasar Kerja
Kondisi
pasar kerja berpengaruh pada penyediaan (supply) calon tenaga kerja yang
qualified. Jika perusahaan tidak berhasil mendapatkan calon tenaga kerja
secara tepat pada wilayahnya, maka perusahaan/organisasi tersebut harus mencari
ke wilayah lain. Selain itu persaingan antar organisasi/perusahaan dapat
mengurangi berkumpulnya calon tenaga yang qualified dan atau menyebabkan
tingginya upah yang dijanjikan oleh organisasi/perusahaan yang akan
merekrutnya.
Kecenderungan
Perekonomian
Kecenderungan
perekonomian adalah kecenderungan perusahaan/organisasi dalam pemenuhan
kebutuhan spesifikasi tenaga kerja. Sebagai contoh : pengenalan teknologi
komputer mengakibatkan besarnya permintaan tenaga kerja yang memiliki
kepandaian di bidang komputer.
Perilaku
Masyarakat
Perilaku
masyarakat dalam hal ini adalah penilaian masyarakat tentang suatu jenis
pekerjaan. Jika sebagian besar calon tenaga kerja memandang suatu jenis
pekerjaan sebagai pekerjaan rendahan atau hina, maka kemungkinan besar hanya
sedikit calon tenaga kerja yang melamar pekerjaan tersebut. Sebaliknya jika
sebagian besar masyarakat memandang suatu jenis pekerjaan sebagai perkejaan
yang sangat bergengsi dan terhormat, maka akan banyak calon tenaga kerja yang
melamar saat jenis pekerjaan tersebut ditawarkan.
Contoh
: dahulu pekerjaan sebagai pelayan resetoran atau pelayan di hotel dianggap
sebagai pekerjaan hina atau rendahan. Namun saat ini pandangan masyarakat
tentang pekerjaan tersebut telah berubah.
Peraturan
Pemerintah
Peraturan
pemerintah tentang ketenagakerjaan seperti pemberian kesempatan yang sama pada
semua warga (pria maupun wanita), ketentuan upah minimum, keselamatan kerja dan
sebagainya sedikit banyaknya berpengaruh pada pengadaan tenaga kerja.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)

.jpg)